AFTA ancam perdagangan domestik
Rabu, 09 Desember 2009 | 12:12 wib ET
SURABAYA- Kebijakan Asean-China Free Trade Agreement (AFTA) tinggal tiga minggu lagi dilaksanakan. Namun sebagian besar pelaku industri dalam negeri masih gamang dan merasa tidak siap dengan pemberlakuan pasar bebas dengan China.
Pasalnya, neraca perdagangan antara Indonesia sebelum diberlakukan AFTA, khususnya Jawa Timur (Jatim) sejak beberapa tahun yang lalu selalu mengalami defisit. Apalagi jika sampai AFTA berlaku per tanggal 1 Januari 2010 mendatang.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Syaiful Jasan, mengatakan neraca perdagangan Jatim dengan China tidak pernah mengalami surplus. Ini yang sebenarnya agak menghawatirkan ketika AFTA diberlakukan.
"Bisa jadi, defitis perdagangan dengan China akan bertambah besar," tegasnya.
Data Disperindag Jatim menunjukkan, selama lima tahun ke belakang, Perdagangan Jatim dengan China mengalami defisit yang cukup besar. Defisit pada tahun 2004 mencapai US$376,88 juta. 2005 meningkat menjadi US$485,06 juta, 2006 sedikit menyusut menajdi US$376,95 juta. Pada tahun 2007, defisit perdagangan dengan China kembali melonjak hingga US$790,05 juta dan pada tahun 2008 terjadi defisit yang paling besar, yaitu mencapai US$1,61 miliar.
Sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan, China selalu menduduki peringkat pertama sebagai negara pengimpor komoditas non migas ke Jatim. Pada tahun ini, dari Januari hingga Oktober tercatat Impor China ke Jatim mencapai US$1,381 miliar. Atau menguasai 20,90% sari total nilai impor non migas ke Jatim dari berbaai negara.
Sementara ekspor non migas Jatim ke China pada tahun ini pada periode yang sama mencapai US$621,143 juta atau hanya sekitar 8,93% dari total ekspor Jatim ke berbagai negara.
Dari sini bisa terlihat, dari Januari hingga Oktober 2009, devisit perdagangan Jatim-China mencapai US$761 juta.
“Karena itu, kami berjarap Jatim bisa manfaatkan peluang pasar bebas ini dengan melakukan ekspoansi sebesar-besarnya ke negara China. Khususnya komoditas yang selama ini sudah mampu menembus pasar China, seperti manufaktur, rotan olahan dan sebagainya. Ini harus diupayakan untuk mengimbangi alur impor China yang masuk,” jelasnya. kbc6
Berita Terkait
- Hadapi AFTA barang elektronik, Pemerintah siapkan lab uji SNI
- Jelang puasa, Sulsel antisipasi lonjakan harga
- Pemerintah terbitkan Daftar Negatif Investasi
- Dana Kementerian Perdagangan tambah Rp122 miliar
- Asing tak bisa berinvestasi di 3 sektor
- Barang China masuk Priok Naik 62%
- CAFTA timbulkan dampak sistematik pada buruh
- Pemerintah siapkan 3 strategi hadapi ACFTA
- ACFTA diberlakukan, 1.290 pekerja di-PHK
- Harga kebutuhan pokok mulai beranjak stabil

