Agribisnis
Minggu, 30 Januari 2011 | 13:30 wib ET

Produksi turun, impor tembakau diprediksi naik

SURABAYA, kabarbisnis.com: Menipisnya stok tembakau akibat turunnya produksi selama kurun waktu 2010 yang lalu diperkirakan akan menaikan besaran impor tembakau dari Tiongkok.

Sementara produksi selama tahun 2011 ini juga diperkiraklan sama dengan tahun lalu karena belum membaiknya anomali cuaca di Indonesia. Padahal kebutuhan tembakau indutri rokok nasional mencapai 200.000 ton per tahun.

"Saat ini, produksi tembakau nasional rata-rata mencapai hanya 140.000 ton hingga 150.000 ton per tahun. Dengan kebutuhan sebesar 400.000 ton per tahun, maka peningkatan impor tidak mungkin bisa dibendung," ungkap Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Timur Amin Subarkah, Surabaya, Minggu (30/1/2011).

Amin memperkirakan impor di tahun ini akan naik dari menjadi 60.000 ton per tahun dari realisasi impor tahun lalu yang masih di level 40.000 ton per tahun.

Terkait produksi tembakau Jatim 2010, ia mengatakan mengalami penurunan yang cukup besar karena anomali musim yang terjadi. Dari target sebesar 82.000 ton per tahun hanya tercapai 57.400 ton per tahun, meleset hingga 30% dari target awal. 

Karena anomali cuaca masih belum normal, maka ia juga memperkirakan produksi tahun ini tidak akan mengalami kenaikan dan hanya akan mencapai sekitar 57.400 ton per tahunnya.

Meski demikian, Amin optimistis, kedepan Jatim akan bisa menaikkan produksi melalui program pengurangan impor 2% per tahun.

Yaitu dengan melakukan adaptasi cara tanam untuk meminimalkan dampak musim basah atau penghujan sehingga tembakau yang dihasilkan akan meningkat, baik secara nilai maupun volumenya.

"Langkah ini dimulai dari pemilihan benih yang benar-benar sehat sehingga mencegah tanaman terserang penyakit atau jamur. Selain itu, para petani juga harus memperhatikan saluran air di lahan tembakau," kata Amin.

Secara teknis, lanjutnya, petani disarankan menanam tembakau di gulutan atau media tanam berupa gundungan tanah yang memanjang dengan tinggi sekitar 20-30 cm sehingga akar tidak tergenang air saat hujan.

"Dengan langkah ini, kami optimistis produksi tidak akan menurun," pungkas Amin. kbc6

Komentar
Berita Terkait
Kategori